Langsung ke konten utama
Rapuh di Tengah Keramaian

suara-suara yang tak pernah benar-benar diam.
Tentang hal-hal yang kupikirkan sendiri,
tentang luka yang kupeluk tanpa pernah kutunjukkan.
Di antara tawa dan canda,
aku menyembunyikan lelah yang tak sempat kujelaskan.
Aku tertawa bersama mereka,
seolah hidup sedang baik-baik saja.
Padahal ada bagian diriku
yang retak perlahan,
yang memilih diam karena tak tahu
harus mulai bercerita dari mana.
Keramaian menjadi tempat persembunyianku,
aku tenggelam di antara wajah-wajah yang kucintai.
Mereka membuatku bahagia, sungguh.
Satu per satu hadir membawa warna,
membuat hari-hariku terasa lebih hidup,
membuatku lupa—meski hanya sebentar—
betapa sering aku merasa kosong.
Aku bahagia mengenal mereka,
bahagia pernah menjadi bagian dari cerita yang sama.
Namun di sudut hatiku,
aku menyimpan takut yang tak terucap:
bahwa suatu hari nanti,
kita hanya akan menjadi kenangan
yang saling lewat di ingatan.
Aku tahu, tak semua yang datang akan menetap.
Ada yang hanya singgah untuk menguatkan,
ada yang pergi tanpa sempat pamit,
meninggalkan rindu yang tak tahu ke mana harus pulang.
Dan aku…
aku tetap tersenyum,
meski hatiku belajar hancur pelan-pelan.
Di tengah keramaian ini,
aku merasa rapuh sendirian.
Tersenyum, tapi lelah.
Bahagia, tapi bersiap kehilangan.
Aku hanya berharap,
jika suatu hari kita benar-benar berpisah,
setidaknya aku pernah merasa utuh
saat bersama kalian.
Komentar
Posting Komentar